Nama :
Nur Andyni
Kelas :
2PA07
Npm :
18514141
Kesehatan Mental#
Pendahuluan
Psikolog sering diminta
pendapatnya apabila ada keadaan-keadaan yang sulit dimengerti mengenai
seseorang atau sekelompok orang. Ada kecenderungan mengelompokkan
individu-individu yang normal dan sehat jiwa di satu pihak, dan yang abnormal,
patologis dipihak lain. Abnormal berarti tidak normal, menyimpang dari suatu
standar yang bisa berarti diatas normal atau di bawah normal.
Ada dua pendekatan yang
berbeda dalam membuat pedoman mengenai normalitas, yaitu pendekatan kuantitatif
dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif didasarkan atas sering atau
tidaknya sesuatu terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti
pemikiran awam. Pendekatan kualitatif yaitu menegakkan pedoman-pedoman
normative yang tidak berdasarkan kepentingan atau pemikiran awam, tetapi atas
observasi empirik pada tipe-tipe ideal.
Perilaku Normal adalah
perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat
pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi
Abnormal adalah
sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada
sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. (Kartini
Kartono, 1989).
Untuk mendeskripsikan abnormalitas didasarkan pada satu atau
lebih definisi berikut:
·
Penyimpangan
dari norma statistik, definisi abnormalitas didasarkan pada frekuensi
statistik, perilaku abnormal adalah yang secara statistik jarang atau menyimpang
dari normal.
·
Penyimpangan dari norma sosial. Setiap
masyarakat memiliki standar atau norma tertentu untuk perilaku yang dapat
diterima. Perilaku yang menyimpang secara jelas dari norma tersebut dianggap
abnormal.
·
Perilaku
maladaptif, perilaku mempengaruhi kesejahteraan individu atau kelompok sosial,
sehingga perilaku dianggap abnormal jika ia bersifat maladaptif, jika ia
memiliki pengaruh buruk pada individu atau masyarakat.
·
Distress
pribadi, kriteria ini menganggap abnormalitas dalam pengertian perasaan
distress subjektif individual daripada perilaku individual. Sebagian orang
didiagnosis menderita penyakit mental merasakan penderitaan batin yang berat,
mereka cemas, terdepresi, dan mengalami insomnia, penurunan nafsu makan, atau banyak
nyeri atau sakit. Perilaku individu tampak normal bagi pengamatan awam.
Teori
·
Menurut Singgih Dirgagunarsa (1999: 140)
mendefinisikan psikologi abnormal sebagai lapangan psikologi yang berhubungan
dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi
kejiwaan.
·
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal
adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan
mental dan abnormalitas jiwa.
·
Pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009),
pengertian psikologi abnormal dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology
involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in
neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely
understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change
abnormal patterns of functioning”.
·
Ada empat aspek untuk menilai normal
atau tidaknya perilaku seseorang menurut Stern(1964),yaitu:
1. daya
integrasi, ialah fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke
dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi perilaku atau
pemikiran, makin baik.
2. ada
atau tidaknya symptom atau gejala gangguan ditinjau dari segi praktis,
merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara
kualitatif.
3. kriteria psikoanalisis dengan memperhatikan
tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat
kesadaran seseorang, maka makin baik atau sehat jiwanya, sebaliknya jika
seseorang terlalu banyak dikuasai alan tak sadar, mak ia kurang sehat jiwanya.
Tingkat dan jalannya perkembangan psikoseksual berhubungan erat dengan
perkembangan fisik dan perkembangan libido.
4. Determinan
sosial dan kultural, lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam
penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.
·
William Gladstone dalam bukunya “Test Your Own Mental Health” menguraikan
pegangan2 praktis untuk menilai kesehatan mental sendiri.
7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian
diri (adaptability) yaitu:
1.
Ketegangan
2.
Suasana hati
3.
Pemikiran
4.
Kegiatan
(aktivitas)
5.
Organisasi
diri
6.
Hubungan
antar manusia
7. Keadaan fisik.
Analisis
Contoh kasus :
Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan
perkawinannya selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan
kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu
dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami
yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap
hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada
suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut
dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai
keberanian untuk melakukannya.
1. Statistical infrequency
·
Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet
yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu
dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal
atau abnormal.
·
Dalam kasus ini, sikap Landa memang jarang terjadi di dalam kehidupan
bermasyarakat, tetapi hal ini tidak bisa dikatakan perilaku abnormal. Kita
perlu untuk menelisik lebih jauh lagi penyebab ketakutannya tersebut.
2. Unexpectedness
·
Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak
diharapkan terjadi. Dalam kasus ini jelas terlihat perilaku unexpectedness.Respon
Landa saat bersama dengan suaminya jelas merupakan perilaku yang tidak ia
harapkan. Tentunya, ia mengharapkan ia dapat memjalani pernikahannya dengan
perasaan senang dan bahagia, bukan takut dan khawatir
3. Violation of norms
·
Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana
perilaku tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat,
berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti
abnormal.
Kriteria ini mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif
tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Menurut saya,
perilaku Landa tidak bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat. Dalam
hal ini saya melihat sikap Landa yang ingin bercerai dengan suaminya. Wajar
bagi seorang wanita bila ia tidak merasa bahagia dan nyaman dengan suaminya, ia
menginginkan perceraian.
4. Personal distress
·
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan
kesengsaraan bagi individu. Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk
menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat
diberlakukan secara umum.
·
Berdasarkan kasus Landa, ia mengalami ketakutan dan kekhawatiran yang
mendalam terhadap suaminya. Sampai-sampai ia tidak merasakan kebahagiaan dan
kenyamanan bila bersama suaminya dan perilaku ini sudah mengarah terhadap
perilaku abnormal.
5. Disability
·
Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena
abnormalitas yang dideritanya.
·
Dalam kasus ini, Landa mengalami kesulitan dalam mencapai tujuannya yaitu
kebahagiaan dalam pernikahannya. Ia mengalami kesulitan dikarenakan adanya
perasaan takut dan khawatir yang mendalam yang ia rasakan karenafigur suami
yang otoriter dan overprotekstif sehingga untuk berbicara pun ia merasa takut
kepada suaminya. Hal itu jelas menghambatnya untuk dalam mencapai tujuan
pernikahannya.
Daftar Pustaka
http://fitrimahartami.blogspot.co.id/2012/02/analisis-kasus-abnormal.html