Selasa, 29 Maret 2016

Teori Kepribadian Sehat



1.      Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini.
Kepribadian Sehat Psikoanalisa: 
  • Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-anak yang traumatis.
  • Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan. 
  • Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan 
  • Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang 
  • Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif 
  • Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.

2.      Teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku dan semua bentuk tingkah laku manusia. Pavlov, Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar dari lingkungan.
Namun perlu di sadari bahwa kelemahan dari Behavioristik adalah dalam teori clasical conditioning, manusia disamakan dengan “hewan” dan dalan operan conditioning manusia dianggap sebagai “robot” yang dapat dikondisikan sehingga manusia dapat di program. Dalam teori-teori ini manusia dianggap sebagai satu kesatuan yang sama. Pada kenyataannya manusia adalah mahluk yang unik (Teori Humanistik). Maka untuk mengetahui keseluruhan tentang kepribadian sehat kita tetap perlu mengetahui tentang teori Humanistik.

3.      Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.


Pendapat para ahli tentang teori kepribadian sehat

  1. Allport
    Allport ingin menghilangkan kontradiksi dan kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang “diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”.
  • Proprium
  • Identitas diri
  • Harga diri
  • Perluasan diri
  • Gambaran diri
  • Diri sebagai perilaku rasional
  • Perjuangan proprium

    7 kriteria kematangan menurut allport
  • Perluasan Perasaan Diri (extension of the self).
  • Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain  (Warm relating ofself to other)
  • Keamanan Emosional (Emotional security).
  • Persepsi Realistis
  • Keterampilan dan Tugas
  • Pemahaman Diri (Self Objectification)
  • Filsafah Hidup (Philosophy of life).
  1. Rogers
    Rogers memandang kepriabadian sehat sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
    Carl Rogers mendeskripsikan the self  atau self-structure sebagai sebuah konstruk yang menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Self ini dibagi 2 yaitu :
  1. Real Self adalah keadaan diri individu saat ini.
  2. Ideal Self adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut.



  1. Maslow
    Menurut Maslow, syarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tadi tela disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat kebutuhan yang ada, diantaranya yang pertama adalah kebutuhan akan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, cinta kasih, serta penghargaan diri. Dan kebutuhan ini harus terpenuhi sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.

  2. Fromm
    kepribadian yang sehat adalah orientasi produktif,
    Fromm menunjukkan bahwa kata itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons itelektual, emosional, dan sensorik terhadap orang-orang, benda-benda, peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri.
    Menjadi produktif berarti orang menggunakan semua tenang dan potensinya. Kata produktif mungkin menyesatkan karena kita cenderung memikirkan kata tersebut dalam arti menghasilkan sesuatu seperti barang-barang material, karya-karya seni, atau ide-ide. Fromm mengartikan kata produktif itu sinonim dengan berfungsi sepenuhnya, mengaktualisasikan diri, mencintai, keterbukaan, dan mengalami.



    DAFTAR PUSTAKA

Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Kanisius: Jakarta.
                                                                         

Jumat, 18 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat

Nama          : Nur Andyni
Kelas          : 2PA07
Npm           : 18514141
Kesehatan Mental#


Pendahuluan


Psikolog sering diminta pendapatnya apabila ada keadaan-keadaan yang sulit dimengerti mengenai seseorang atau sekelompok orang. Ada kecenderungan mengelompokkan individu-individu yang normal dan sehat jiwa di satu pihak, dan yang abnormal, patologis dipihak lain. Abnormal berarti tidak normal, menyimpang dari suatu standar yang bisa berarti diatas normal atau di bawah normal. 
Ada dua pendekatan yang berbeda dalam membuat pedoman mengenai normalitas, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif didasarkan atas sering atau tidaknya sesuatu terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti pemikiran awam. Pendekatan kualitatif yaitu menegakkan pedoman-pedoman normative yang tidak berdasarkan kepentingan atau pemikiran awam, tetapi atas observasi empirik pada tipe-tipe ideal.
Perilaku Normal adalah perilaku yang adekuat (serasi dan tepat) yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Sedangkan Perilaku Pribadi Abnormal adalah sikap hidup yang sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat seseorang berada sehingga tercapai suatu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan. (Kartini Kartono, 1989).
Untuk mendeskripsikan abnormalitas didasarkan pada satu atau lebih definisi berikut:
·         Penyimpangan dari norma statistik, definisi abnormalitas didasarkan pada frekuensi statistik, perilaku abnormal adalah yang secara statistik jarang atau menyimpang dari normal. 
·          Penyimpangan dari norma sosial. Setiap masyarakat memiliki standar atau norma tertentu untuk perilaku yang dapat diterima. Perilaku yang menyimpang secara jelas dari norma tersebut dianggap abnormal. 
·         Perilaku maladaptif, perilaku mempengaruhi kesejahteraan individu atau kelompok sosial, sehingga perilaku dianggap abnormal jika ia bersifat maladaptif, jika ia memiliki pengaruh buruk pada individu atau masyarakat.
·         Distress pribadi, kriteria ini menganggap abnormalitas dalam pengertian perasaan distress subjektif individual daripada perilaku individual. Sebagian orang didiagnosis menderita penyakit mental merasakan penderitaan batin yang berat, mereka cemas, terdepresi, dan mengalami insomnia, penurunan nafsu makan, atau banyak nyeri atau sakit. Perilaku individu tampak normal bagi pengamatan awam.



Teori

·         Menurut Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.

·         Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.

·         Pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009),  pengertian psikologi abnormal dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.

·          Ada empat aspek untuk menilai normal atau tidaknya perilaku seseorang menurut Stern(1964),yaitu:

1.      daya integrasi, ialah fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi perilaku atau pemikiran, makin baik.
2.      ada atau tidaknya symptom atau gejala gangguan ditinjau dari segi praktis, merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif.
3.       kriteria psikoanalisis dengan memperhatikan tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, maka makin baik atau sehat jiwanya, sebaliknya jika seseorang terlalu banyak dikuasai alan tak sadar, mak ia kurang sehat jiwanya. Tingkat dan jalannya perkembangan psikoseksual berhubungan erat dengan perkembangan fisik dan perkembangan libido. 
4.      Determinan sosial dan kultural, lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak.

·         William Gladstone dalam bukunya “Test Your Own Mental Health” menguraikan pegangan2 praktis untuk menilai kesehatan mental sendiri.
7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu:
1.      Ketegangan
2.      Suasana hati
3.      Pemikiran
4.      Kegiatan (aktivitas)
5.      Organisasi diri
6.      Hubungan antar manusia
7.      Keadaan fisik.




Analisis

Contoh kasus :

            Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinannya selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.

1.     Statistical infrequency
·         Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal. 
·         Dalam kasus ini, sikap Landa memang jarang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi hal ini tidak bisa dikatakan perilaku abnormal. Kita perlu untuk menelisik lebih jauh lagi penyebab ketakutannya tersebut.

2.     Unexpectedness
·         Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Dalam kasus ini jelas terlihat perilaku unexpectedness.Respon Landa saat bersama dengan suaminya jelas merupakan perilaku yang tidak ia harapkan. Tentunya, ia mengharapkan ia dapat memjalani pernikahannya dengan perasaan senang dan bahagia, bukan takut dan khawatir

3.     Violation of norms
·         Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.
Kriteria ini  mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Menurut saya, perilaku Landa tidak bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat. Dalam hal ini saya melihat sikap Landa yang ingin bercerai dengan suaminya. Wajar bagi seorang wanita bila ia tidak merasa bahagia dan nyaman dengan suaminya, ia menginginkan perceraian.  

4.     Personal distress
·         Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
·         Berdasarkan kasus Landa, ia mengalami ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam terhadap suaminya. Sampai-sampai ia tidak merasakan kebahagiaan dan kenyamanan bila bersama suaminya dan perilaku ini sudah mengarah terhadap perilaku abnormal.

5.   Disability
·         Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya.
·         Dalam kasus ini, Landa mengalami kesulitan dalam mencapai tujuannya yaitu kebahagiaan dalam pernikahannya. Ia mengalami kesulitan dikarenakan adanya perasaan takut dan khawatir yang mendalam yang ia rasakan karenafigur suami yang otoriter dan overprotekstif sehingga untuk berbicara pun ia merasa takut kepada suaminya. Hal itu jelas menghambatnya untuk dalam mencapai tujuan pernikahannya.



Daftar Pustaka


Ardiani Ardi Tristiadi, m.Si. Psi. 2011. Psi Abnormal. Bdg : Lubuk Agung
http://www.scribd.com/doc/34873082/2/A-PENGERTIAN-PSIKOLOGI-ABNORMAL

http://fitrimahartami.blogspot.co.id/2012/02/analisis-kasus-abnormal.html