Kamis, 27 November 2014

manusia dan kejujuran


MANUSIA DAN KEJUJURAN


Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman.

Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.

Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya. Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.

Saat ini banyak sekali manusia-manusia yang sudah tidak berpegang lagi pada pentingnya arti sebuah kejujuran, manusia sekarang hanya berpatokan pada perut dan kenyataan yang harus dihadapi. Kejujuran bukan lagi sebuah hal yang harus dijunjung tinggi dalam sikap, tindakan dan omongan sehari-hari. Kejujuran sudah seperti sampah lapuk yang tidak ada arti dan bahkan tidakdapat difungsikan lagi. Padahal kejujuran merupakan sebuah tonggak, merupakan sebuah tiang pancang yang kokoh untuk menyangga kehidupan manusia dan menjaga hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhannya.

Semakin tinggi ilmu pengetahuan teknologi dan peradaban manusia, semakin orang lebih menggunakan otak dan pikirannya utk menjalani atau menyikapi kehidupan ini, adapun kejujuran ditempatkan pada masing masing kotak permasalahan masing masing menurut skala prioritas atau derajat kepentingannya, ada yang menempatkan kejujuran pada kotak kasih sayang atau cinta kasih, kotak karier, kotak bisnis, adapula yang menempatkannya di beberapa kotak . 
Di jaman sekarang, orang malah tak dapat hidup dengan normal, apabila menempatkan kejujuran disemua aspek atau permasalahan kehidupan, orang akan takut disebut disebut sebagai "manusia bodoh" .

Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hokum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta. Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya.

Ketika manusia sudah mulai tidak jujur terhadap manusia yang lain, maka mulailah muncul perseteruan, pertengkaran, percekcokan, perselisihan dan berujung pada penghilangan nyawa seorang manusia. Ketika manusia sudah tidak jujur dengan alam, maka mulailah kehancuran alam, ilegal logging yang berujung pada kemurkaan alam dengan longsor, banjir, semburan gas alam, semburan lumpur yang berujung pada musnahnya juga aspek-aspek penting dan semua pengisi alam termasuk manusianya itu sendiri. Dan ketika manusia tidak lagi jujur dengan Tuhannya, maka kemurkaan Tuhan turun dan lebih seram dari kemurkaan alam, hasilnya? manusia tidak lagi sempat memohon ampun ketika Tuhan mencabut nyawa manusia itu. 

Sesungguhnya keimanan dan kejujuran selalu berjalan beriringan. Keimanan tidak akan dapat bersatu dengan dusta. Sesungguhnya Allah mengajarkan kepada kita bahwasanya siapa pun yang menghabiskan umurnya untuk berbohong, maka pada akhirnya ia hanya akan menjadi orang yang munafik. Sesungguhnya keimanan dilandasi dengan kejujuran. Sedangkan kemunafikan dilandasi dengan kebohongan. Dengan demikian, tidak mungkin keimanan dan kebohongan bercampur dan berasimilasi dalam satu hati yang sama.

Rasulullah bersabda, ''Sesungguhnya kejujuran akan mendatangkan ketenangan; sedangkan kebohongan akan mendatangkan keraguan.'' (HR Tirmidzi). Kita pun mungkin tak asing mendengar kata-kata bijak, ''Katakanlah suatu kebenaran walaupun menyakitkan.'' Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya sebagai seorang pembohong dan beragam kecemasan lainnya.

Rasululah SAW bersabda, ''Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menuntun kepada jalan menuju surga. Apabila seseorang berlaku jujur dan konsisten dengannya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya kebohongan menuntun kepada keburukan dan keburukan menuntun kepada jalan menuju api neraka. Apabila seseorang berbohong, maka Allah akan mencatatnya sebagai pembohong.'' (HR Bukhari). Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seseorang yang awalnya terpaksa berbohong, namun bila ia melakukannya terus-menerus, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi tabiat hidupnya. Inilah yang harus diwaspadai. Sesungguhnya kebohongan hanya membawa pelakunya kepada banyak permasalahan

Apakah manusia mampu hidup dalam kejujuran sejati? Manusia sebenarnya bukanlah simbol kesempurnaan, tetapi manusia tidak lebih dari sebuah kreativitas tanpa batas yang selalu hidup dalam ketidaksempurnaan.Perjalanan hidup setiap orang di dunia ini secara pasti akan melalui berbagai tikungan bahagia, dan berbagai tikungan penderitaan. Kedua tikungan ini merupakan takdir dari sebuah perjalanan hidup yang tidak bisa dimaknai dengan kejujuran formalitas. Bahagia dan penderitaan adalah sebuah kejujuran sejati yang tidak mungkin bisa diingkari oleh siapapun. Oleh karena itu, sudah saatnya setiap orang mulai memikirkan makna hidup sesungguhnya dalam wujud kejujuran sejati.

Kejujuran formalitas hanya akan menjadi ladang subur bagi penderitaan mental, emosi, dan kedamaian jiwa. Kejujuran formalitas telah mengkhianati kejujuran sejati dalam semua aspek kehidupan. Dan hal ini jelas akan menciptakan dampak yang besar kepada pertumbuhan pikiran positif. Apabila pikiran positif mulai melemah, maka pikiran negatif akan menguasai semua aspek kehidupan dari seseorang, jelas ini akan menjadikan orang tersebut hidup dalam ketidakstabilan jiwa dan raga. Kejujuran sejati seharusnya dilestarikan dan dirawat oleh setiap orang dalam pikiran dan perilakunya secara wajar dan baik, dan menyingkirkan kejujuran formalitas dari semua lingkungan kehidupan setiap orang agar kehidupan ini bisa memberi makna damai dan bahagia kepada setiap manusia.

Tantangan terberat bangsa ini sebetulnya terletak pada bagaimana menggugah seluruh komponen bangsa terutama dunia kependidikan untuk dapat menyadari bahwa kejujuran adalah nyawa pendidikan dan kehidupan manusia. Jika kejujuran itu sudah tiada maka pendidikan dan kehidupan manusia akan dikubur oleh bumi.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah manusia mampu hidup dalam kejujuran sejati dalam lingkungan dunia yang penuh godaan hidup dalam kemewahan ini?. Marilah kita renungkan bersama. Pastikan diri sendiri menjadi seorang pribadi yang mampu melestarikan kejujuran sejati.


sumber : http://www.taruna-bakti.com/yayasan/index.php?&artikel=1&uhal=&hal=3&id=61

Tidak ada komentar:

Posting Komentar